Apa Yang Terjadi Ketika Kita Mengabaikan Kesehatan Mental Di Tengah Kesibukan?

Pernahkah kamu merasa seperti dunia ini berputar terlalu cepat, sementara kamu terjebak di tengah kesibukan yang tiada henti? Saya ingat betul bagaimana awal tahun lalu, ketika saya terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang padat. Meninggalkan rumah sebelum matahari terbit dan pulang saat hampir gelap, hidup saya hanyalah tentang pekerjaan dan tanggung jawab. Pada saat itu, kesehatan mental saya mulai terkikis, meski saya terus mengabaikannya.

Tanda-Tanda Awal yang Diabaikan

Suatu malam di bulan Maret, setelah seharian menghadapi deadline yang menumpuk, tubuh dan pikiran saya menyerah. Saya duduk di meja kerja dengan pandangan kosong. Hanya beberapa hari sebelumnya, saya masih mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Namun sekarang? Semua terasa berat. Mulai dari sakit kepala yang berdenyut hingga perasaan cemas yang menjalar tanpa alasan jelas.

Dari pengalaman tersebut, satu hal jelas: seringkali kita menganggap bahwa kita kuat dan dapat menangani segalanya sendiri. Di sinilah masalahnya muncul; mengabaikan tanda-tanda ketegangan mental adalah langkah pertama menuju titik jenuh. Merasa tidak nyaman tapi tetap berusaha untuk melanjutkan seolah-olah semuanya baik-baik saja adalah pola pikir berbahaya.

Proses Mencari Keseimbangan

Setelah beberapa minggu dalam keadaan stres akut ini, keputusan harus dibuat. Saya tahu jika dibiarkan terus menerus akan ada konsekuensi lebih besar di kemudian hari—tidak hanya untuk kesehatan mental tetapi juga fisik saya. Jadi pada suatu pagi bulan April yang dingin, setelah berbicara dengan seorang teman dekat mengenai perjuangan ini, saya memutuskan untuk mengambil cuti singkat.

Cuti ini bukan hanya sekadar berhenti bekerja; itu adalah momen refleksi untuk mengevaluasi diri dan merancang kembali keseimbangan hidup saya. Selama seminggu penuh itu, saya mencoba berbagai hal—meditasi pagi di balkon sambil menikmati secangkir kopi hangat atau berjalan-jalan santai tanpa tujuan di taman sekitar rumah sambil mendengarkan musik favorit.

Membangun Kebiasaan Sehat

Satu pelajaran penting muncul: membangun kebiasaan sehat tidak hanya soal waktu—itu tentang kualitas pengalaman yang kita ciptakan setiap harinya. Memang mudah bagi kita untuk terjebak dalam rutinitas kerja keras demi mencapai tujuan profesional; namun apa gunanya semua pencapaian itu jika kita kehilangan diri sendiri? Dengan menjadi lebih sadar akan keadaan mental dan emosional selama rutinitas sehari-hari—seperti menetapkan waktu istirahat nyata antara pertemuan atau memprioritaskan hobi pribadi—kualitas hidup dapat meningkat secara drastis.

Saya pun belajar bahwa mendukung kesehatan mental bukan hanya tugas individu; perusahaan juga perlu peduli terhadap karyawan mereka. Sebuah studi menunjukkan hubungan erat antara kebahagiaan karyawan dan produktivitas kerja.Industrial Manufacturing Hub, misalnya, menekankan pentingnya lingkungan kerja positif sebagai faktor krusial untuk keberhasilan jangka panjang perusahaan.

Kembali ke Rutinitas dengan Mindset Baru

Setelah cuti selesai dan kembali ke kantor dengan perspektif baru memang bukan hal mudah; tantangan selalu ada setiap harinya. Namun kali ini berbeda—I started to prioritize myself first before tackling my tasks again. Kini terdapat ruang kecil dalam agenda harian untuk melakukan mindfulness sebelum memulai pekerjaan atau menjadwalkan waktu bersantai walaupun hanya 10 menit sehari.

Bahkan jika suasana hectic kembali muncul (yang pasti terjadi), kini ada pengetahuan bahwa “saya” lebih penting daripada pekerjaan belaka. Mengabaikan kesehatan mental sama saja menghancurkan potensi diri sendiri secara perlahan-lahan.” Pengalaman tersebut membuat aku menyadari bahwa investasi terhadap kebahagiaan batin tak bisa ditunda lagi."